Rumah Kopi Minggu Pagi

Hari masih cukup pagi tetapi Rumah Kopi SEHATI, milik Abdul Rahim Poiyo, telah dipadati pengunjung. Sebuah mobil unit siaran langsung RRI Gorontalo tampak mendominasi parkir di depannya. Deretan motor dan beberapa bentor (becak-motor) mengisi sisa area parkir yang tidak terlalu luas. Sementara beberapa kendaraan beroda empat hanya dapat puas menempati lahan parkir pertokoan di seberang jalan.

Meja panjang dengan kursi-kursi papan ala warung kaki lima di muka Rumah Kopi itupun sudah penuh terisi pengunjung sementara, mereka yang datang belakangan terpaksa harus berdiri diluar atau duduk di atas motor-motor yang diparkir. Namun demikian, kepadatan itu tak sedikitpun mengganggu perhatian pengunjung untuk menyimak argumentasi seru yang tengah berlangsung di dalam. Pengeras suara yang diletakkan di luar tampaknya sangat membantu pengunjung yang melebur kejalan. Sesekali udara pagi itu diramaikan oleh tepukan tangan disertai seruan spontan yang hingar-bingar. Gelak tawa yang meningkahi beragam komentar membuat suasana semakin hangat.

Memasuki bagian dalam Rumah Kopi membutuhkan sedikit perjuangan, pintu masuk yang cukup kecil pun sesak oleh pengunjung yang berdiri. Udara pepak yang terasa panas nampaknya toh tak mempengaruhi pengunjung yang memenuhi semua kursi diruang dalam. Seluruh perhatian mereka terpusat pada diskusi yang hari itu mengambil topik “Pencegahan maksiat di kaitkan dengan budaya malu, sungguh menarik menyaksikan bagaimana diskusi tersebut disiarkan secara langsung oleh RRI Gorontalo. Acara diskusipun berjalan secara interaktif tidak hanya pengujung yang hadir dapat memberi tanggapan. Tetapi para pendengarpun dapat menelepon dan bergabung pula.

Menjelang pukul 09 : 00 WITA, Ashari reporter RRI Gorontalo yang menjadi moderator menutup acara. Usainya pengudaraan diskusi terbuka Rumah Kopi di RRI ini tidak berarti usainya acara dilokasi, ada argumentasi yang tak jarang dibarengi saling tuding menjadi hiburan tersendiri. Gelak tawa dan beragam komentar spontan yang terlontar menciptakan suasana yang panas tetapi toh tetap akrab penuh gurauan.

Mungkin bagi yang tidak terbiasa, cukup mencengangkan menyaksikan fenomena sosial di Rumah Kopi yang telah menjadi bagian dari budaya setempat. Argumentasi panas yang keras, dengan topik-topik diskusi yang tak jarang cukup krusial, terkesan sepintas seperti menyiram bensin kebara api. Namun, kuatnya rasa kebersamaan diantara anggota masyarakat setempat yang juga cukup dalam mengakar dalam budaya mereka. Tampak berhasil mengontrol kobaran api yang tercipta. Layaknya menyalakan api unggun dalam sebuah pesta perkemahan. Rumah Kopi Gorontalo adalah api spirit yang layak terus berkobar mengalahkan dan menyemangati sebuah pesta keterbukaan yang tak boleh hilang kegembiraannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.