<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>HenryBLOGultom &#187; Nusantaralink</title>
	<atom:link href="http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/category/nusantaralink/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://henry.gultom.or.id</link>
	<description>Gtoms singkatan dari gultom, family name atau marga yang kusandang sejak lahir. Dari kuliah sampai bekerja aku selalu dipanggil Gul atau Tom. Tinggal di Jakarta dan bekerja di perusahaan Internet Services Provider &#38; Telco Swasta.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Sep 2010 04:47:27 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Rumah Kopi Minggu Pagi</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/05/02/rumah-kopi-minggu-pagi/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/05/02/rumah-kopi-minggu-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2005 08:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[	Hari masih cukup pagi tetapi Rumah Kopi SEHATI, milik Abdul Rahim Poiyo, telah dipadati pengunjung. Sebuah mobil unit siaran langsung RRI Gorontalo tampak mendominasi parkir di depannya. Deretan motor dan beberapa bentor (becak-motor) mengisi sisa area parkir yang tidak terlalu luas. Sementara beberapa kendaraan beroda empat hanya dapat puas menempati lahan parkir pertokoan di seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hari masih cukup pagi tetapi Rumah Kopi <span class="caps">SEHATI</span>, milik Abdul Rahim Poiyo, telah dipadati pengunjung. Sebuah mobil unit siaran langsung <span class="caps">RRI </span>Gorontalo tampak mendominasi parkir di depannya. Deretan motor dan beberapa bentor (becak-motor) mengisi sisa area parkir yang tidak terlalu luas. Sementara beberapa kendaraan beroda empat hanya dapat puas menempati lahan parkir pertokoan di seberang jalan.<br />
<span id="more-66"></span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/tuangkopi.jpg" alt="" align="left" /> Meja panjang dengan kursi-kursi papan ala warung kaki lima di muka Rumah Kopi itupun sudah penuh terisi pengunjung sementara, mereka yang datang belakangan terpaksa harus berdiri diluar atau duduk di atas motor-motor yang diparkir. Namun demikian, kepadatan itu tak sedikitpun mengganggu perhatian pengunjung untuk menyimak argumentasi seru yang tengah berlangsung di dalam. Pengeras suara yang diletakkan di luar tampaknya sangat membantu pengunjung yang melebur kejalan. Sesekali udara pagi itu diramaikan oleh tepukan tangan disertai seruan spontan yang hingar-bingar. Gelak tawa yang meningkahi beragam komentar membuat suasana semakin hangat.</p>

	<p>Memasuki bagian dalam Rumah Kopi membutuhkan sedikit perjuangan, pintu masuk yang cukup kecil pun sesak oleh pengunjung yang berdiri. Udara pepak yang terasa panas nampaknya toh tak mempengaruhi pengunjung yang memenuhi semua kursi diruang dalam. Seluruh perhatian mereka terpusat pada diskusi yang hari itu mengambil topik &#226;&#8364;&#339;Pencegahan maksiat di kaitkan dengan budaya malu, sungguh menarik menyaksikan bagaimana diskusi tersebut disiarkan secara langsung oleh <span class="caps">RRI </span>Gorontalo. Acara diskusipun berjalan secara interaktif tidak hanya pengujung yang hadir dapat memberi tanggapan. Tetapi para pendengarpun dapat menelepon dan bergabung pula.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/rri.jpg" alt="" align="left" />Menjelang pukul 09 : 00 <span class="caps">WITA</span>, Ashari reporter <span class="caps">RRI </span>Gorontalo yang menjadi moderator menutup acara. Usainya pengudaraan diskusi terbuka Rumah Kopi di <span class="caps">RRI</span> ini tidak berarti usainya acara dilokasi, ada argumentasi yang tak jarang dibarengi saling tuding menjadi hiburan tersendiri. Gelak tawa dan beragam komentar spontan yang terlontar menciptakan suasana yang panas tetapi toh tetap akrab penuh gurauan.</p>

	<p>Mungkin bagi yang tidak terbiasa, cukup mencengangkan menyaksikan fenomena sosial di Rumah Kopi yang telah menjadi bagian dari budaya setempat. Argumentasi panas yang keras, dengan topik-topik diskusi yang tak jarang cukup krusial, terkesan sepintas seperti menyiram bensin kebara api. Namun, kuatnya rasa kebersamaan diantara anggota masyarakat setempat yang juga cukup dalam mengakar dalam budaya mereka. Tampak berhasil mengontrol kobaran api yang tercipta. Layaknya menyalakan api unggun dalam sebuah pesta perkemahan. Rumah Kopi Gorontalo adalah api spirit yang layak terus berkobar mengalahkan dan menyemangati sebuah pesta keterbukaan yang tak boleh hilang kegembiraannya.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/05/02/rumah-kopi-minggu-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kwandang Sekilas Pandang</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/04/22/kwandang-sekilas-pandang/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/04/22/kwandang-sekilas-pandang/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Apr 2005 14:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[	Kecamatan Kwandang yang berjarak kurang lebih 62 Km dari Limboto, merupakan kawasan pelabuhan perikanan. Mayoritas penduduknya adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan alam. Di tinjau dari kondisi ekosistem lautnya yang relatif masih baik menjadikan kawasan ini tergolong cukup beruntung. Beragam jenis ikan, terutama ikan-ikan bernilai ekonomis tinggi, cukup banyak dihasilkan dari tangkapan para nelayan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Kecamatan Kwandang yang berjarak kurang lebih 62 Km dari Limboto, merupakan kawasan pelabuhan perikanan. Mayoritas penduduknya adalah nelayan yang menggantungkan hidupnya pada kemurahan alam. Di tinjau dari kondisi ekosistem lautnya yang relatif masih baik menjadikan kawasan ini tergolong cukup beruntung. Beragam jenis ikan, terutama ikan-ikan bernilai ekonomis tinggi, cukup banyak dihasilkan dari tangkapan para nelayan dari kawasan ini.<br />
<span id="more-67"></span><br />
<table style="height: 224px;" border="1" cellspacing="2" cellpadding="2" width="45%" bgcolor="#cccccc" bordercolor="#666666"><br />
<tbody><br />
<tr><br />
<td width="45%"><br />
<div><img src="http://henry.gultom.or.id/images/ikan1.jpg" alt="" width="188" height="250" /></div></td><br />
<td width="55%"><br />
<div><img src="http://henry.gultom.or.id/images/ikan2.jpg" alt="" width="200" height="130" /></div></td><br />
</tr><br />
<tr><br />
<td><br />
<div><img src="http://henry.gultom.or.id/images/ikan3.jpg" alt="" width="183" height="200" /></div></td><br />
<td><br />
<div><img src="http://henry.gultom.or.id/images/ikan4.jpg" alt="" width="240" height="183" /></div></td><br />
</tr><br />
</tbody></table><br />
Selain menangkap ikan, masyarakat nelayan di kawasan ini juga mengembangkan beragam jenis budi daya hasil kalautan. Meski dimaksudkan sebagai usaha sampingan, usaha budidaya inipun dapat dikatakan cukup berhasil. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh kondisi alamnya yang masih baik, tetapi juga ditentukan oleh faktor sumber daya manusianya. Melalui program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, beragam pelatihan di introdusir kepada masyarakat nelayan. Demikian pula halnya dengan bimbingan dan pembinaan serta dana bantuan yang maksimal mungkin diupayakan untuk menjaga keberlangsungan usaha budi daya yang terus menunjukkan kemajuan.</p>

	<p>Seperti halnya kawasan-kawasan pesisir pantai lain di seluruh dunia, pantai utara kabupaten Gorontalo inipun sempat mengalami degradasi kualitas ekosistem akibat kerusakan alam. Rusaknya hutan bakau dan terumbu karang akibat ekploitasi alam yang yang berlebihan. Termasuk ilegal dan over fishing sempat membayangi kehidupan para nelayan di kawasan ini. Namun kesadaran yang dipicu oleh kerja keras dan keperdulian bebagai elemen masyarakat, cepat berkembang. Beragam upaya dilakukan untuk menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam demi kepentingan mereka sendiri. Menyadari bahwa upaya-upaya ini tak mungkin dibebankan kepada pemerintah daerah saja, masyarakat nelayanpun digalang untuk terlibat aktif bahkan menjadi elemen penggerak yang tak terpisahkan. Wal hasil, gerakan yang melibatkan berbagai elemen yang melibatkan dengan ujung tombak para nelayan sendiri, mulai menunjukkan manfaat bagi Khalayak. Tergabung dalam sebuah sistenm yang mereka namakan <span class="caps">SISWASMAS</span>, sistem pengawasan berbasis masyarakat pun bergulir dinamis. Yang menarik sistem pengawasan ini tidak hanya di motori oleh pemerintah daerah, dalam hal ini. Dinas Perikanan, tetapi juga kepolisian, himpunan nelayan setempat dan <span class="caps">LSM</span>. Dalam sebuah kolaborasi yang terintegrasi. <span class="caps">SISWASMAS</span> ini menjaga terpeliharanya kelestarian Sumber daya alam sekaligus mendayagunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan di kawasan pantai utara.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/04/22/kwandang-sekilas-pandang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopiah Keranjang</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/04/20/kopiah-keranjang/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/04/20/kopiah-keranjang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Apr 2005 15:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[	 Kopiah atau penutup kepala pria adalah hal yang umum dikenal di negeri ini. Umumnya terbuat dari kain beludru hitam, penutup kepala pria ini sempat menjadi salah satu ciri busana nasional. Bahkan sempat pula menjadi ciri kemusliman bagi para pria pemakainya. Memang, penggunaan kopiah hitam seolah tak bisa dilepaskan dari kegiatan ibadah seperti ketika melaksanakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/kopiah.jpg" alt="" align="left" /> Kopiah atau penutup kepala pria adalah hal yang umum dikenal di negeri ini. Umumnya terbuat dari kain beludru hitam, penutup kepala pria ini sempat menjadi salah satu ciri busana nasional. Bahkan sempat pula menjadi ciri kemusliman bagi para pria pemakainya. Memang, penggunaan kopiah hitam seolah tak bisa dilepaskan dari kegiatan ibadah seperti ketika melaksanakan sholat berjamaah di mesjid.<br />
<span id="more-68"></span><br />
Demikian gambaran singkat mengenai penutup kepala yang umumnya melekat di benak anak negeri ini. Namun, seperti juga pelengkap busana yang lain, penutup kepala pria inipun tidak imun dari perkembangan mode. Belakangan ini penggunaan kopiah hitam sebagai penutup kepala telah pula tersentuh oleh laju perkembangan mode yang tak henti melanda. Hitamnya kopiah tidak lagi polos. Sulaman benang keemasan dengan disain unik yang tak jarang berbau etnis tradisional suatu daerah tampak mulai seringkali digunakan.</p>

	<p>Selain kopiah bersulam, mulai marak pula penggunaan penutup kepala dari kain yang berbentuk bulat dan pas di kepala pemakainya. Seperti pada kopiah, berbagai disain sulaman juga tampak mempermanis penampilan penutup kepala yang bulat ini. Belakangan penutup kepala bulat ala Timur Tengah inipun mulai berkembang pesat. Tidak lagi hanya terbuat dari kain berhias sulaman, penutup kepala ini telah berkembang bahkan terbuat dari anyaman seperti pada Kopiah Keranjang dari Gorontalo.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/kopiah2.jpg" alt="" align="left" /> Beruntung saya sempat mengunjungi desa tempat para pengrajin pembuatnya. Oleh karena, menurut beberapa orang Gorontalo yang sempat kami temui, para pengrajin kopiah keranjang ini sudah sangat jarang di masa sekarang. Kalaupun ada, biasanya mereka tinggal terpencil di kawasan pedesaan. Apa yang menarik dari Kopiah Keranjang dari Gorontalo ini? Pertama adalah keunikannya yang sangat kuat menampilkan warna etnis tradisional. Dan yang kedua adalah kenyamanan bagi pemakainya. Oleh karena terbuat dari anyaman, kopiah keranjang ini tidak terasa panas meski lama dikenakan. Yang ketiga, adalah bahan baku pembuatannya yaitu kulit kayu Pohon Mintu yang konon hanya ada di hutan-hutan Gorontalo</p>

	<p>Tumbuhan Mintu, yang konon hanya tumbuh di hutan-hutan Gorontalo itu tak ubahnya seperti pohon rotan liar. Berbeda dengan rotan yang keras dan getas, sulur-sulur pohon Mintu tampak lebih lentur dan benyak mengandung air. Untuk membuat kopiah keranjang terlebih dahulu sulur Mintu dikeringkan di bawah matahari sampai warna kulitnya kecoklatan. Lalu dengan sangat hati-hati, kulit tersebut dilepaskan dari batangnya dengan menggunakan pisau khusus. Sedangkan bagian dalam batangnya yang mirip batang bambu dibelah-belah sebesar lidi.</p>

	<p>Setelah seluruh proses persiapan bahan selesai, barulah penganyaman kopiah dilakukan. Menggunakan lidi yang terbuat bilah-bilah Mintu, Kopiah mendapatkan kerangka yang membuatnya tidak mudah berubah bentuk. Lidi Mintu yang biasanya sangat panjang itu kemudian dianyam dengan kulit batangnya sehingga terbentuklah kopiah seperti yang dikehendaki pengrajin. Bentuk Kopiah Keranjangpun bervariasi, ada yang berbentuk seperti kopiah konvensional ada pula yang berbentuk bulat. Apapun bentuknya, keunikan yang diciptakan oleh gradasi warna kulit Mintu tak pernah kehilangan pesonanya. Inilah yang membuat Kopiah Keranjang digemari.</p>

	<p>Namun, seperti kebanyakan kerajinan khas daerah, Kopiah Keranjang Gorontalo ini tidak terlalu mudah ditemui di pertokoan. Disamping tingkat produksinya sangat tergantung pada semakin sedikitnya jumlah pengrajin, bahan baku yang berasal dari pohon Mintu pun hanya ada di Gorontalo. Oleh karenanya, sangat beruntunglah mereka yang memperoleh kesempatan untuk memiliki Kopiah Keranjang yang unik dan langka ini.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/04/20/kopiah-keranjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Hidangan Ikan Bakar ala Gorontalo</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/03/07/69/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/03/07/69/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Mar 2005 15:18:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[	 Ikan bakar yang lezat dengan aneka sambal pedas tampaknya menjadi primadona hidangan di Gorontalo. Menu makanan ini tampaknya sudah menjadi keharusan baik di warung-warung sederhana sampai ke restoran terkemuka di kawasan ini. Memang Kabupaten Gorontalo merupakan salah satu wilayah maritim penghasil ikan yang sangat kaya. Seolah alam demikian pemurah memberikan kawasan ini beragam jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/oci.jpg" alt="" align="right" /> Ikan bakar yang lezat dengan aneka sambal pedas tampaknya menjadi primadona hidangan di Gorontalo. Menu makanan ini tampaknya sudah menjadi keharusan baik di warung-warung sederhana sampai ke restoran terkemuka di kawasan ini. Memang Kabupaten Gorontalo merupakan salah satu wilayah maritim penghasil ikan yang sangat kaya. Seolah alam demikian pemurah memberikan kawasan ini beragam jenis ikan dan hasil laut lainnya.<br />
<span id="more-69"></span></p>

	<p>Kondisi kelautannya yang relatif masih belum tercemar di kawasan ini membuat ikan dan hasil lautnya tergolong berkualitas prima. Tentu saja hal ini sangat mempengaruhi cita rasa hidangan panganan laut dari kawasan ini. Ikan dari kawasan ini tetap mempunyai rasa yang agak manis dengan daging yang kenyal meski telah dibakar. Meski banyak hidangan lain yang ditawarkan tetapi hidangan ikan bakar tampaknya demikian populer baik di kalangan masyarakat setempat maupun para pendatang. Memang, disamping kualitasnya yang prima, sajian hidangan ikan bakar di Gorontalo ini terkenal karena kekhasannya. Berikut kita akan lihat berbagai hidangan ikan bakar yang sangat populer di kawasan ini serta tentu saja rahasia yang membuat hidangan ikan bakar dari Gorontalo ini sangat istimewa kelezatannya.</p>

	<p>Hidangan ikan bakar ala Gorontalo ini menjadi sangat istimewa karena menu pendamping serta sambal pedas yang menyertainya. Bukan hidangan Ikan Bakar namanya jika tidak disantap dengan sambal rica dan sambal dabu-dabu. Dan, hidangan ikan bakar pun tidak terasa lengkap tersaji tanpa sayur tumis kangkung atau pun tumis bunga pepaya. Dan, rahasia kelezatan hidangan ikan bakar ini sebenarnya terletak pada dua hal, yaitu kesegaran dan pengolahan ikan serta keunikan rasa khas pada sambalnya.</p>

	<p>Adapun rahasia kelezatan ikan bakar Gorontalo terletak pada kesederhanaan pengolahan sebelum ikan dibakar. Apapun jenis ikan yang dipilih untuk hidangan ini terlebih dahulu ikan dibumbui garam dan perasan jeruk kingkit. Yaitu sejenis jeruk nipis tetapi ukurannya lebih kecil dengan bagian dalamnya berwarna oranye muda. Rasa masam jeruk ini terasa agak sedikit manis dengan keharuman yang sangat khas. Aroma jeruk kingkit ini disamping menghilangkan bau amis ikan juga mempertajam rasa asli dari ikannya itu sendiri. Dan menu ikan bakar Gorontalo ini memilih ikan-ikan yang memiliki rasa khas, seperti Baronang, Cakalang, Krapu, dan Kembung Banjar. Oleh karena ikan-ikan dari silayah ini memiliki kesegaran dan kualitas prima, maka pengolahan yang sederhana tersebut menjadikan kita dapat dengan jelas membedakan rasa asli dari masing-masing jenis ikan yang dihidangkan.</p>

	<p>Rahasia lain dari kelezatan ikan bakar Gorontalo ini terletak pada proses pembakarannya. Setelah &#194;&#177; 10 menit didiamkam dalam bumbu garam dan perasan jeruk kingkit, bagian luar ikan dikeringkan dengan menggunakan kain bersih. Setelah itu dilumuri dengan minyak jelantah, atau minyak yang telah dipakai untuk menggoreng. Hal ini disamping menjaga agar kulit ikan tidak rusak karena menempel pada alat pembakarannya juga ikan menjadi lebih cepat matang tanpa menjadi gosong. Pelumuran minyak jelantah pada kulit ikan ini juga akan membuat ikan tampak mengkilat ketika dihidangkan.</p>

	<p>Seperti telah disinggung sebelumnya, rahasia lain dari kelezatan hidangan ikan bakar ini terletak pula pada sambal pelengkapnya. Yaitu sambal rica dan sambal dabu-dabu. Jika sambal rica disajikan dengan cara dilumuri pada ikannya, maka sambal dabu-dabu disajikan secara terpisah dari ikan bakar yang menjadi menu utamanya. Apa rahasia kedua sambal istimewa tersebut?</p>

	<p>Rahasia kelezatan sambal rica yang dilumuri pada ikan terletak pada proses pembakarannya. Bumbu rica yang terdiri dari gerusan kasar cabai merah, jahe, dan bawang merah ditambahi dengan perasan jeruk kingkit dan minyak goreng. Minyak berbumbu rica ini dioleskan pada ikan sebelum dibakar. Sehingga rasa rica yang pedas meresap kedalam ikan dengan sempurna. Sisa dari olesan bumbu rica lalu ditumis dan disiramkan di atas ikan yang telah dibakar matang.</p>

	<p>Berbeda dengan sambal dabu-dabu yang disajikan secara terpisah dengan ikannya. Sambal khas yang segar ini terdiri potongan bulat dan kasar dari bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat mengkal. Setelah potongan bumbu dabu-dabu ini diletakkan di dalam wadah tambahi garam lalu disiram dengan minyak goreng panas dan diberi perasan jeruk kingkit yang harum.</p>

	<p>Hidangan ikan bakar dengan kedua jenis sambal khas ini terasa kurang lengkap jika tidak disantap dengan sayuran yang berupa tumisan kangkung atau tumisan bunga pepaya. Kombinasi hidangan ikan bakar ala Gorontalo ini dijamin memuaskan selera dan cita rasa bersantap anda. Selamat mencoba.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/03/07/69/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelapa dari Hilir ke Hulu</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/02/10/kelapa-dari-hilir-ke-hulu/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/02/10/kelapa-dari-hilir-ke-hulu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Feb 2005 13:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[	Lambaian nyiur dari ratusan jajaran pohon kelapa adalah pemandangan yang umum di daerah diseluruh kawasan Kabupaten Gorontalo. Batang lurus menjulang tinggi dengan tandan berisi belasan sampai puluhan butir kelapa seolah telah menjadi simbol kemakmuran rakyat Gorontalo sejak ratusan tahun lalu. Meski tanah Gorontalo yang subur mampu pula memproduksi hasil perkebunan lain, seperti coklat, cengkeh, kemiri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Lambaian nyiur dari ratusan jajaran pohon kelapa adalah pemandangan yang umum di daerah diseluruh kawasan <a href="http://www.kabgtlo.go.id/">Kabupaten Gorontalo</a>. Batang lurus menjulang tinggi dengan tandan berisi belasan sampai puluhan butir kelapa seolah telah menjadi simbol kemakmuran rakyat Gorontalo sejak ratusan tahun lalu. Meski tanah Gorontalo yang subur mampu pula memproduksi hasil perkebunan lain, seperti coklat, cengkeh, kemiri dan pala. Namun kelapa tetap menjadi produk primadona sejak berabad lalu.<br />
<span id="more-64"></span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/kelapa1.jpg" alt="" align="left" /> Catatan Dinas Pertanian Kabupaten pertahun 2002 menunjukkan volume produksi kelapa yang jauh mengatasi produk perkebunan lain dikawasan ini. Dengan luas lahan sebesar 35.428,65 Hektar, Kabupaten Gorontalo menghasilkan 36.260,25 ton kelapa dengan peyerapan pasar kebutuhan lokal yang mencapai 4.659 ton, maka surplus produksi menyisakan 31.601 ton setiap tahunnya. Hal ini yang mungkin mendorong Pemkab Gorontalo lebih memilih intensifikasi pengolahan hasil produksi ketimbang ekstensifikasi lahan perkebunan kelapa itu sendiri. Niatan ini tampaknya telah teraktualisasi dalam bentuk pendirian pabrik Nata De Coco dan pabrik tepung kelapa di Kecamatan Tibawa yang menjadi sentra penghasil kelapa Kabupaten Gorontalo. Perbincangan denfgan seorang petani kelapa, serta kunjungan ke pabrik Nata De Coco di Kecamatan Tibawa, tepatnya di kelurahan Isimu rasanya dapat cukup mengungkap sebagian profil primadona produk perkebunan Kabupaten Gorontalo.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/peng.jpg" alt="" align="left" />Lahan perkebunan kelapa seluas 38,5 Hektar telah dikelola oleh Peng Moniaga sejak 10 (sepuluh) tahun lalu, masa kerja yang cukup panjang itu bagi Peng sendiri dirasa masih baru. Baik lahan maupun bisnis perkebunan kelapa ini sendiri diwarisi Peng dari orang tuanya. Oleh karena semua saudaranya tinggal berpencar di luar Gorontalo, maka Peng mengelola perkebunan ini sendiri.</p>

	<p>Perkebunan yang sangat luas milik keluarga yang diwariskan turun-temurun ini dipenuhi oleh ratusan batang kelapa. Dalam keterangannya Peng menjelaskan bahwa dalam setiap hektar lahan ditanami 200 batang kelapa dengan jarak tanam antar pohon berkisar antara 8 &#226;&#8364;&#8220; 10 meter. Untuk mencapai usia produktif sebuah pohon membutuhkan waktu 10 tahun sejak bibit ditanam. Dan rata-rata setiap pohon mampu menghasilkan 20 &#226;&#8364;&#8220; 30 butir kelapa yang dipanen setiap 3 bulan sekali. Meski demikian tingkat produksi kelapa yang cukup tinggi tersebut dapat saja menurun drastis sampai hanya kurang dari 10 butir setiap pohonnya.Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat produktifitas kelapa di lahan-lahan para petani. Demikian pula dengan tingkat pendapatan yang mereka peroleh berkaitan dengan harga jual kelapa di pasarnya. Dalam perbincangan yang bersahabat Peng Moniaga berbagi kisah mengenai seluk beluk perkebunan kelapa. Menurut Peng <em>&#226;&#8364;&#339;Sampai sekarang hanya kelapa yang saya olah menjadi kopra. Selain itu tempurungnyapun saya jual, seribu rupiah perkeranjang. Sabut kelapa dan kayu kelapa jika ada pohon yang tumbang karena sudah tua. Sebetulnya ada tawaran dari pabrik Nata De Coco yang mau menampung air kelapa. Tetapi saya minta mereka untuk membiayai upah pengupasannya sehingga jika mau ambil airnya, saya tidak perlu mengeluarkan biaya pengupasannya. Jadi, saya sebetulnya tidak menjual air kelapa&#226;&#8364;.</em></p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/sapi.jpg" alt="sapi" /><br />
Kami lihat ada cukup banyak Sapi di tanah perkebunan ini, apakah anda juga beternak Sapi di tempat ini ? Untuk apa gubuk-gubuk kayu yang ada ini ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Kalau Sapi-sapi itu saya pelihara untuk penghela gerobak, pengangkut semua kelapa yang sudah dipetik. Sapi-sapi ini juga digunakan untuk membajak lahan perkebunan kelapayang saya jadikan semacam ladang kering. Ladang dibawah pohon-pohon kelapa itu saya tanami jagung, ubi, dan kacang tanah. Nah, kalau gubuk-gubuk itu adalah tempat pengasapan kelapa untuk di jadikan kopra.&#226;&#8364;</em></p>

	<p>Melihat luasnya lahan dan adanya ladang tumpang sari di perkebunan ini, berapa jumlah pegawai anda ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Disini ada lima orang tukang panjat, empat orang pengumpul, dua orang pengangkut gerobak, dua orang tukang kupas, dan dua orang tukang bakar kelapa. Jadi semuanya 15 (lima belas) orang.&#226;&#8364;</em></p>

	<p>Apakah untuk lahan seluas 38,5 ha cukup memadai dengan lima belas orang pekerja ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Masalahnya begini, kalau terlau banyak orang yang datang bekerja, sulit untuk saya mengontrolnya. Manusianya sering kali bermasalah dengan saya mereka panjat lima pohon tetapi mengakunya 10 pohon. Ini merepotkan saya toh. Kalau hanya lima orang panjat lebih mudah untuk saya mengontrolnya. Apalagi semua pekerja itu sudah lama sekali bekerja pada saya, sehingga tidak perlu banyak diberitahu mereka sudah tahu apa yang harus dikerjakan.&#226;&#8364;</em></p>

	<p>Jadi, yang penting bagi anda adalah kejujuran ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Ya. Biar jumlahnya sedikit, biar tidak terlalu pandai, yang penting mereka jujur itu yang paling penting buat saya. Bahkan biarpun saya marah-marah mereka tetap setia bekerja pada saya. Tentu saja, saya juga menjamin dan memperhatikan keluarga mereka.&#226;&#8364;</em></p>

	<p>Menurut anda, apakah hasil dari perkebunan ini cukup memadai ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Yah, namanya juga usaha. Pasti ada naik atau turunnya kan ? penghasilan dari perkebunan kelapa ini tidak hanya tergantung pada harga kopra. Jumlah kelapa yang dihasilkan juga berpengaruh. Meski begitu, kalau di hitung rata-rata, penghasilan yang diperoleh dari kelapa ini cukup&#226;&#8364;&#166;oke lah. Karenajika tidak ada gangguan cuaca, setiap tiga bulan saya panen.&#226;&#8364;</em></p>

	<p>Gangguan cuaca seperti apa yang dapat menghalangi panen anda ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Ya seperti hujan. Karena batang kelapa menjadi basah atau terlalu licin untuk di panjat. Sementara, kalau musim hujan, kualitas kelapa justru lebih baik. Jadi kendala akibat cuaca hujan hanya di proses pemetikannya saja.</em><br />
<em><br />
Selain cuaca, kendala lainnya adalah jika terjadi musibah yang menimpa pekerja atau keluarganya. Seperti kematian, sakit, dan bencana lainnya yang menimpa keluarga. Maka para pekerja disini akan minta ijin. Karena mereka semua masih satu keluarga. Sehingga jika ada hal-hal seperti itu, semuanya akan minta ijin untuk tidak masuk kerja ini yang sering kali menjadi kendala.&#226;&#8364;</em></p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/sapi2.jpg" alt="sapi" /><br />
Baik sekarang kita kembali ke hasil produksi kelapa. Kemana anda memasarkan semua kelapa atau pun kopra yang dihasilkan?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Biasanya pembeli yang datang. Para pembeli itu tidak hanya berasal dari Gorontalo saja, tetapi juga dari Kabupaten lain. Karena topiknya kelapa ataupun tepung kelapa itukan juga ada ditempat-tempat yang lain.</em></p>

	<p><em>Sementara dengan pabrik tepung kelapa yang ada di Kabupaten ini, masalahnya hanya penawaran mereka yang terlalu rendah. Sudah itu mereka itu ingin membeli kelapa dalam bentuk butiran. Jadi kelapa hanya di kupas sabutnya saja. Ini sulit buat saya karena kalau saya jual butiran bagaimana dengan tukang kupas dan tukang bakar kopra saya? Mereka akn kehilangan pekerjaan toh. Tidak saya pulangkan dan jadikan mereka pengangguran toh. ? mengenai harga, mereka tawarkan harg 350 &#226;&#8364;&#8220; 400 rupiah. Saya katakan 500 rupiah/butir pun tidak bisa saya jual. Lebih baik saya jual langsung dari pohon, jadi mereka petik sendiri. Tetapi mereka tidak mau, nah kalau harganya serendah itu, sementara saya harus membiayai pemetikan, pengumpulandan pengupasan serabut, harga yang mereka tawarkan tak menutupi semua biaya yang saya keluarkan.&#226;&#8364;</em></p>

	<p>Apakah ada perkumpulan petani kelapa yang dapat menentukan atau paling tidak membuat kesepakatan mengenai harga pasar kelapa disini?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Perkumpulan petani seperti itu tidak ada tetapi kalau pembeli yang biasa membeli kelapa disini bahkan berani sampai memberi uang panjar. Nah, kalau kita butuh pinjaman amodal, tinggal minta uang panjar dari mereka saja. Ikatan antara pembeli dan petani itu demikian kuat. Bahkan sampai turun-temurun. Tidak demikian halnya dengan pabrik, mereka maunya ada barang lalu bayar maka para petani tidak mau terikat dengan pabrik.&#226;&#8364;<br />
</em><br />
Mengingat kelapa adalah primadona produksi perkebunan di Kabupaten ini, adakah perhatian atau campur tangan Pemeerintah Daerah paling tidak untuk menjaga stabilnya harga kelapa di pasaran ?</p>

	<p><em>&#226;&#8364;&#339;Oh, yang seperti itu tidak ada disini, jadi kalau ada pembeli datang dengan harga penawaran yang bagus, yang saya jual, tetapi kalau harganya masing tinggi pembeli yang lain, ya saya tahan untuk dijual kepada penawaran yang terbaik toh.</em></p>

	<p>Yang namanya petani&#226;&#8364;&#166;kita kerja dari pagi sampai sore tanpa tahu bagaimana hasilnya. Belum lagi resiko cuaca, hama, dan upah para pekerja. Semuanya itukan harus kita tanggung sendiri toh. Berbeda dengan orang kerja dan hidup dari gaji mereka kan tidak harus menghadi resiko itu. Apapun yang terjadi, mereka pasti terima gaji setiap bulannya?&#226;&#8364;</p>

	<p>Demikian seluk beluk dan berbagai masalah nyata yang dihadapi para petani kelapa di Kabupaten Golontalo. Dari Hilir produksi kelapa, kita berinjak ke hulu dengan mengetengahkan liputan mengenai Nata De Coco. Sebuah pabrik pengolahan hasil sampingan dalam bentuk air kelapa.</p>

	<p>Umum kita lihat bagaimana air kelapa selama ini di buang dan diberlakukan sebagai limbahyang tak berguna. Namun, teknologi yang ditemukan para ilmuwan pertanian yang telah mengubahnya. Melalui proses permentasi yang ditangani secara ilmia, air kelapa tersebut ditransform menjadi panganan bergizi yang kaya serat.</p>

	<p>Berbentuk kemasan plastik potongan sari kelapa dijual dalam cairan sirup sari kelapadijual dalam cairan sirup aneka rasa. Dan berkat kreatifitas para ahli boga, sari kelapa inipun semakin digemari dan semakin populer. Citranya sebagai limbah yang tidak berguna bahkan perlahan memudar, digantikan oleh citra mewah sebagai sajian penyegar di akhir perjamuan makan dan pesta-pesta.</p>

	<p>Tingginya produksi kelapa tentunya juga menjadikan Kabupaten Gorontalo memiliki bahan baku yang sangat besar bagi industri sari kelapa. Oleh karenanya, pada tahun 2001 sebuah pabrik pengolahan sari kelapa didirkan di sentra penghasil kelapa, Kecamatan Tibawa, pabrik yang dinamakan Nata De Coco, sesuai dengan merk dagang di setiap kemasannya, mulai teroperasi sejak Maret 2002. &#226;&#8364;&#339;Banyak kemajuan telah dicapai oleh pabrik ini,&#226;&#8364; demikian jelas pimpinan perusahaan Ir. Hadijah Toyib M.M.</p>

	<p>Rata-rata setiap harinya pabrik ini mampu memproduksi 40.000 &#226;&#8364;&#8220; 60.000 kemasan. Namun, jika permintaan pasar mulai ramai, pabrik ini menghasilkan 70.000 kemasan. &#226;&#8364;&#339;Biasanya meningkatnya permintaan pasar itu terjadi ketika terjadi perayaan nasional, lebaran, bulan sya&#226;&#8364;&#8482;ban dimana banyak diselenggarakan hajatan perkawinan dan sunatan, natal dan Ramadhan&#226;&#8364;, demikian lanjut Hadijah, &#226;&#8364;&#339;Pada intinya, pabrik yang dikelola oleh pemkab ini didirikan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, paling tidak di kawasan sekitar sini.&#8221;</p>

	<p>Memang pabrik Nata De Coco ini tidak menangani pembuatan bahan baku oleh karena bahan baku yang berupa lembaran sari kelapa dikumpulkandari masyarakat sekitar. &#226;&#8364;&#339;Pabrik hanya melakukan pengolahan teknologi sampai ke pengemasan untuk kemudian didisribusikan ke beberapa tempat di Sulawesi, terutaa Menado, Kabupaten Gorontalo dan Gorontalo Kota. Mengenai proses pengolahan teknologi yang dilakukan pabrik. Kepala pabrik, Ir Minarsih Henga menjelaskan.</p>

	<p>&#226;&#8364;&#339;Setelah memberikan pengolahan bahan baku masyarakat, kami membina mereka untuk menjadikannya industri rumahan. Untuk membuat air kelapa menjadi lembaran-lembaran sari kelapa, diperlukan ragi Nata De Coco. Nah ragi Nata De Coco inilah yang kami budidayakan disini dan disuplai kepada para pengrajin.</p>

	<p>Setelah lembaran-lembaran sari kelapa terkumpul dari para pengrajin, pabrik lalu mengolahnya. Sepereti menghilangkan bau asam dengan pemasakan atau netralisasi pemberian sirup sesuai dengan jenis rasa. Pengepakan mekanik, posteurisasi dan akhirnya re-check untuk menjaga kejernihan dan kebersihannya. Setelah diberi label, maka Nata De Coco inipun didistribusikan ke pasar.&#226;&#8364;</p>

	<p>Yang menarik ketika mencoba sari kelapa keluarga pabrik Nata De Coco adalah rasanya yang lebih segar serta kekenyalan dari kelapanya yang lebih padat. &#226;&#8364;&#339;kami tidak menggunakan pemanis buatan&#226;&#8364;, demikian jelas Hadijah mengenai cita rasa Nata De Coco yang kami cicipi. Seraya tersenyum pimpinan perusahaan yang juga lulusan fakultas pertanian universitas Sam Ratulangi Manado ini mengatakan &#226;&#8364;&#339;kami sebetulnya juga sangat membutuhkan distributor di daerah-daerah lain, untuk memasarkan Nata De Coco ini&#226;&#8364;.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/02/10/kelapa-dari-hilir-ke-hulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakpak Arts</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/12/01/pakpak-arts/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/12/01/pakpak-arts/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2004 13:03:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[	
When Pakpak people hold ceremonies such marriage, buying the dead, officiating new buildings, or welcome guests, Pakpak will play the traditional drums.


genderang pakpak dimainkan bila ada upacara-upacara adat seperti perkawinan, kematian, meresmikan gedung publik, menyambut tamu agung dan sebagainya
 ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/gondang1.jpg" alt="gondang" /><br />
When Pakpak people hold ceremonies such marriage, buying the dead, officiating new buildings, or welcome guests, Pakpak will play the traditional drums.<br />
<span id="more-42"></span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/gondang.jpg" alt="gondang batak" /><br />
genderang pakpak dimainkan bila ada upacara-upacara adat seperti perkawinan, kematian, meresmikan gedung publik, menyambut tamu agung dan sebagainya</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/12/01/pakpak-arts/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakpak Clothes</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/12/01/pakpak-clothes/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/12/01/pakpak-clothes/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Dec 2004 12:11:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[	Pakpak cloth is dominated by black color. Oles, a traditional cloth of pakpak, is very often used to complement modern cloth so that it looks unique.


Pakaian tradisional orang Pakpak didominasi oleh warna hitam. Ketika pakaian modern sudah dikenal maka oles(ulos) selalu menjadi penanda busana yang khas.
 ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Pakpak cloth is dominated by black color. Oles, a traditional cloth of pakpak, is very often used to complement modern cloth so that it looks unique.<br />
<span id="more-43"></span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/pakaiandaerah.jpg" alt="pakaiandaerah" /><br />
Pakaian tradisional orang Pakpak didominasi oleh warna hitam. Ketika pakaian modern sudah dikenal maka oles(ulos) selalu menjadi penanda busana yang khas.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/12/01/pakpak-clothes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Undangan Komputer  Aktif Award 2004</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/30/90/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/30/90/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Nov 2004 12:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/05/05/90/</guid>
		<description><![CDATA[	Subject: Undangan Komputer Aktif &#8211; Jakarta
From: &#8220;Promosi&#8221; Promosi@gramedia-majalah.com
Date: Tue, 30 Nov 2004 16:36:47 +0700
To: telor05mateng@yahoo.com,contact@loucee.com,montan@centrin.net.id,www@15june .com,jasonmccane@telkom.net,info@yogyes.com,rohmat@ancol.com,aryanie@indo.c om,psarungu@bulanmadu.com,gtoms@nusantaralink.com,agung@djogdjamanis.com,j@ tagpixel.com,info@blueangelnet.com,management@shivaband.net

	KOMPUTER  AKTIF AWARD 2004

	Salam aktif,

	Sebelumnya, kami ucapkan selamat kepada  situs Anda yang telah menjadi nomine situs Indonesia terbaik versi majalah Komputer Aktif.

	Kami atas nama penyelenggara, mengundang Anda untuk hadir pada acara penganugerahan Situs Indonesia Terbaik 2004 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Subject: Undangan Komputer Aktif &#8211; Jakarta<br />
From: &#8220;Promosi&#8221; Promosi@gramedia-majalah.com<br />
Date: Tue, 30 Nov 2004 16:36:47 +0700<br />
To: telor05mateng@yahoo.com,contact@loucee.com,montan@centrin.net.id,www@15june .com,jasonmccane@telkom.net,info@yogyes.com,rohmat@ancol.com,aryanie@indo.c om,psarungu@bulanmadu.com,<strong>gtoms@nusantaralink.com</strong>,agung@djogdjamanis.com,j@ tagpixel.com,info@blueangelnet.com,management@shivaband.net</p>

	<p><span class="caps">KOMPUTER  AKTIF AWARD 2004</span></p>

	<p>Salam aktif,</p>

	<p>Sebelumnya, kami ucapkan selamat kepada  situs Anda yang telah menjadi nomine situs Indonesia terbaik versi majalah Komputer Aktif.</p>

	<p>Kami atas nama penyelenggara, mengundang Anda untuk hadir pada acara penganugerahan Situs Indonesia Terbaik 2004 yang rencananya akan kami laksanakan pada:</p>

	<p>Hari                  : Jumat, 10 Desember 2004<br />
Pukul                : 18.00&#160; 21.00<br />
Tempat           : News Cafe Kemang Jakarta<br />
<span class="caps">MC                  </span>:  Ivie Batuta &#038; Hilbram Dunar</p>

	<p>Demikian undangan ini kami sampaikan.<br />
Untuk konfirmasi kehadiran, Anda bisa menghubungi kami<br />
di email promosi@gramedia-majalah.com  atau di 0811107xxx (agung)</p>

	<p>salam,</p>

	<p>Salim djundam<br />
Promosi</p>

	<p>Memudahkan, Menyenangkan<br />
klik: http://www.komputeraktif.com</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/30/90/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bantayo Poboide</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/27/bantayo-poboide/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/27/bantayo-poboide/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Nov 2004 17:12:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[	Rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu segera saja menarik perhatian mereka yang melintas di jalan Sudirman, Limboto, Kabupaten Gorontalo. Keanggunan bangunan itu dengan kuatnya merefleksikan kemegahan arsitektur tradisional Gorontalo. Pepohonan besar di sekitar halaman bangunan tersebut memberikan suasana hijau yang teduh. Sinar matahari yang menerobos sela-sela dedaunan menciptakan noktah-noktah cahaya yang membersit tajam diantara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Rumah panggung yang seluruhnya terbuat dari kayu segera saja menarik perhatian mereka yang melintas di jalan Sudirman, Limboto, Kabupaten Gorontalo. Keanggunan bangunan itu dengan kuatnya merefleksikan kemegahan arsitektur tradisional Gorontalo. Pepohonan besar di sekitar halaman bangunan tersebut memberikan suasana hijau yang teduh. Sinar matahari yang menerobos sela-sela dedaunan menciptakan noktah-noktah cahaya yang membersit tajam diantara bayangan. Kontras dengan lanskap kawasan yang ditata modern. Bangunan tradisional di tengah kerimbunan pepohonan itu tampak seperti &#226;&#8364;&#339;Oasis Oksigen&#226;&#8364; yang menjanjikan keteduhan di teriknya panas Gorontalo.<br />
<span id="more-37"></span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/rumahadat.jpg" alt="rumahadat" /><br />
Bantayo Poboide, demikian huruf-huruf yang tertulis di sebuah prasasti dekat pintu gerbangnya. Mengandung pengertian Rumah Musyawarah Adat, Bantayo Poboide memang menjadi sebuah situs budaya yang berfungsi sebagai tempat berkumpul bagi masyarakat Kabupaten Gorontalo. Berbagai upacara adat, penerimaan tamu kenegaraan, pesta perkawinan adat, sampai kegiatan sosial dan keagamaan kerap dilangsungkan di tempat itu. Seperti sebuah balai besar, Bantayo poboide, menjadi sebuah tempat ideal yang mengakomodir beragam kegiatan masyarakat Kabupaten.</p>

	<p>Rumah Musyawarah Adat itu sendiri terletak tepat berhadap-hadapan dengan Kantor Bupati Gorontalo. Jika ditilik dari desain arsitekturnya, kedua bangunan tersebut tampak jelas kemiripannya, sehingga peletakan yang tepat berihadapan dari keduanya seolah mengesankan pertemuan dua era dari dari satu akar budaya yang satu.</p>

	<p><span class="caps">DETAIL EKSTERIOR</span></p>

	<p>Jika diperhatikan lebih seksama, rumah panggung Bantayo Poboide yang keseluruhannya terbuat dari kayu ini menggunakan dua jenis kayu. Yaitu kayu coklat kemerahan yang berserat lurus dan kayu hitam. Kayu coklat kemerahan itu sendiri ampak mendominasi seluruh bangunan. Sementara kayu berwarna hitam dipergunakan sebagai kusen, pegangan tangga dan pagar balkon, serta ukiran lubang anginnya. Perpaduan dan penempatan kedua jenis kayu tersebut menjadikan detil keseluruhan bangunan tampak tajam disamping membuatnya terkesan kharismatik.</p>

	<p>Keseluruhan dinding, daun pintu, jendela, dan lantai terbuat dari kayu coklat kemerahan, yang dipernis tipis. Sementara, semua kusen, tulang pintu, jendela dan pegangan tangga serta balkon terbuat dari kayu hitam. Demikian pula denga lubang angin di atas pintu, yang menampilkan ukiran halus bermotif tumbuhan dan bunga yang berlubang-lubang. Ukiran kayu hitam inilah yang memberi aksen artistik sekaligus karismatik pada eksterior bangunan.</p>

	<p>Dua buah tangga yang cukup lebar, secara simetris terletak di muka bangunan. Keduanya mengapit balkon yang merupakan bagian serambi depan. Sementara di sayap kanan dan kirinya terdapat ruang terbuka yang lebih rendah dari bagian panggung bangunan utama. Meski demikian kedua ruangan di sayap kanan dan kiri itu tetap lebih tinggi dari permukaan tanah dan merupakan aula terbuka bagi serambi kanan dan kiri bangunan utama. Sepasang tangga yang masing-masing terletak disayap kanan dan kiri, menghubungkan serambi kanan dan serambi kiri bangunan utama. Sehingga, tanpa melalui tangga utama di depan bangunan, orang dapat saja keluar dari serambi kanan atau kiri menuju aula terbuka di sayap bangunan utama.</p>

	<p><span class="caps">INTERIOR DAN PEMBAGIAN RUANGAN</span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/rumahadat2.jpg" alt="rumahadat" /><br />
Karpet merah yang menutupi seluruh lantai, bahkan juga setiap anak tangga  di muka bangunan. Rona merah terang karpet tersebut memberi aksen yang memperkuat keanggunan keseluruhan interiornya. Daun pintu dan jendelanya yang menggunakan kayu coklat kemerahan tampak kokoh dengan list lebar dari kayu hitam. Desain Krepyak pada daun pintu dan jendela itu memperkuat kesan antik sekaligus fleksibel pada keseluruhan interior bangunan.</p>

	<p>Keseluruhan bangunan Bantayo Poboide ini terbagi atas lima bagian. Yaitu:</p>

	<p>1. Serambi Luar atau Depan.<br />
2. Ruang Tamu, yang merupakan ruangan memanjang dengan sebuah kamar di masing-masing ujung kanan dan  kirinya.<br />
3. Ruang Tengah, yang merupakan ruangan terluas di antara kelima bagian yang lain. Di Ruang Tengah ini terdapat dua buah kamar yang keduanya terletak di sisi kiri ruangan.  Dua buah tempat tidur kayu antik terdapat di dalam masing-masing kamar itu. Keduanya menggunakan kelambu dan dihiasi kain-kain bersulam benang emas yang sangat cantik. Sementara di sisi kanan ruangan ini terdapat seperangkat pelaminan khas Gorontalo, Lima boneka seukuran manusia berdiri di kedua sisi pelaminan. Sepasang boneka laki-laki dan perempuan berpakaian adat berada di sisi kanan pelaminan. Sementara tiga boneka lain, yang menggambarkan sebuah keluarga kecil, berada di sisi kanan pelaminan. Ketiganya memakai pakaian adat bergaya muslim yang kaya warna dan penuh bersulam benang emas.<br />
4. Ruang Dalam, yang memiliki luas dan bentuk sama dengan Ruang Tamu. Dua buah kamar juga terdapat di masing-masing di ujung kanan dan kiri ruangan ini. Selain pintu dalam kamar-kamar di Bagian Dalam ini juga mempunyai pintu yang menuju ke serambi samping.<br />
5. Ruang Belakang tempat beradanya Dapur, Kamar mandi, dan kamar-kamar kecil. Tidak seperti di ruangan lainnya, kamar-kamar di Ruang Belakang ini terletak berdereet memanjang. Sementara di masing-masing ujung kanan dan kirinya terdapat sebuah pintu keluar menuju serambi samping.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/rumahadat3.jpg" alt="" align="left" />Yang sangat menarik dalam pembagian ruangan ini adalah tata letak pintu-pintu penghubung antar satu ruangan dengan ruangan lainnya. Seperti sebuah poros tengah pintu-pintu tersebut menjadi titik tengah yang membagi keseluruhan Ruangan secara simetris di kanan dan kirinya. Semua pintu tersebut memiliki sepasang daun pintu dengan desain &#226;&#8364;&#339;krepyak&#226;&#8364; Sementara pintu terakhir di ruang belakang langsung menuju serambi belakang yang tidak terlalu luas dibandingkan dengan serambi depan. Sebuah tangga yang langsung turun ke bawah terdapat di serambi belakang ini.</p>

	<p><span class="caps">GENTENG TANAH YANG PAMALI</span>.</p>

	<p>Pengamatan terhadap arsitektur rumah musyawarah adat dan rumah-rumah penduduk maupun gedung-gedung yang ada di Kabupaten Gorontalo semakin menarik. Tidak satupun rumah-rumah dan gedung-gedung di Kabupaten ini menggunakan genteng. Jika tidak menggunakan atap seng yang umum digunakan, masyarakat menggunakan asbes sebagai atap rumah mereka. Ketika ditanyakan kepada beberapa warga, kami memperoleh jawaban seragam yang sangat unik.</p>

	<p>&#226;&#8364;&#339;Orang Gorontalo anti menggunakan genteng, yang terbuat dari tanah sebagai atap rumahnya. Karena mereka memiliki kepercayaan hanya orang mati yang tinggal dibawah tanah.&#226;&#8364; demikian Hamzah Isa menjelaskan seraya tersenyum lebar. Sebuah jawaban pragmatis yang masuk akal.</p>

	<p>Penggunaan atap seng dengan cuaca yang tergolong panas, rumah-rumah di gorontalo dibuat dengan langit-langit yang tinggi. Demikian pula dengan Bantayo poboide. Langit-langit bangunan tradisional ini sangat tinggi dan terbuat dari kayu coklat kemerahan serta dihiasi oleh relief pahatan yang terbuat dari kayu hitam. Desain panggung dari rumah-rumah tradisional tersebut juga memelihara terjaganya aliran udara dari lantai ke bagian dalam seluruh bangunan.</p>

	<p>Hal menarik lain yang sangat menonjol dari Bantayo Poboide ini adalah tamannya. Puluhan para-para mungil yang diberi atap, mengisi seluruh lahan di bawah pepohonan besar di dalam taman. Beragam tanaman hias tumbuh di dalam ratusan pot yang diletakkan di atas para-para yang dicat aneka warna, membuat taman diseputar Bantayo Poboide terkesan cantik dan meriah..</p>

	<p>Para-para beratap yang dicat warna-warni terang ini tidak hanya terdapat di taman Bantayo Poboide. Hampir setiap rumah penduduk, tak perduli di ibukota Kabupaten maupun dipedesaan memilikinya. Bahkan taman-taman di perbatasan Kabupaten dengan Gorontalo Kota, Juga dihiasi dengan para-para seperti itu. Seolah menjadi sebuah reputasi, para Ibu seantero Kabupaten berlomba-lomba menghiasi rumah mereka dengan taman bunga lengkap dengan para-para khas tersebut. Ragam tanaman hias yang dimilikinya tak akan memiliki arti jika tanaman-tanaman tersebut ragam tanaman hias yang dimilikinya tidak akan tak tumbuh subur, rimbun dan berbunga.</p>

	<p>Seorang ibu yang sedang membenahi tamannya, di Kecamatan Isimu berkata : &#166; kalau nanti saya punya uang cukup, saya akan bikin para-para yang lebih  bagus, saya cat supaya cantik .. Demikian jelasnya seraya menunjukkan betapa subur aneka tanaman hias di para-para bambu miliknya, bermacam-macam jenis suplir-supliran berwarna hijau berjuntai dari aneka pot yang terbuat dari kaleng bekas, plastik, bahkan botol-botol air mineral yang telah di potong. Melihat kecintaan para ibu pada keindahan dan taman, pantas saja kalau puluhan para-para di halaman Bantayo poboide itu tampak sangat terpelihara. Oleh karena, Rumah Musyawarah Adat itu sendiri menjadi tempat berkumpul dan aneka kegiatan yang sebagian besar diselenggarakan oleh para ibu dari seluruh kawasan Kabupaten.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/27/bantayo-poboide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>E-mail Pengumuman Nominasi Situs Terbaik 2004-2005</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/19/e-mail-pengumuman-nominasi-situs-terbaik-2004-2005/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/19/e-mail-pengumuman-nominasi-situs-terbaik-2004-2005/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2004 11:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2005/05/05/e-mail-pengumuman-nominasi-situs-terbaik-2004-2005/</guid>
		<description><![CDATA[	
www.nusantaralink.com

	Subject: Pengumuman Nominasi Situs Terbaik 2004-2005
From: &#8220;Situs Terbaik v. Komputeraktif&#8221; situs-terbaik@gramedia-majalah.com
Date: Thu, 18 Nov 2004 22:14:47 +0700
To: gtoms @nusantaralink.com

	Yth. rekan-rekan dotcommer,

	Selamat situs Anda terpilih menjadi salah satu dari lima situs nomine untuk kategori Wisata yang berhak maju ke babak selanjutnya.

	Kini, selama satu setengah bulan mendatang, situs Anda bakal bersaing dengan empat situs nomine lain untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/nomine-wis.gif" alt="nomine wisata" /><br />
www.nusantaralink.com</p>

	<p>Subject: Pengumuman Nominasi Situs Terbaik 2004-2005<br />
From: &#8220;Situs Terbaik v. Komputeraktif&#8221; situs-terbaik@gramedia-majalah.com<br />
Date: Thu, 18 Nov 2004 22:14:47 +0700<br />
To: gtoms @nusantaralink.com</p>

	<p>Yth. rekan-rekan dotcommer,</p>

	<p>Selamat situs Anda terpilih menjadi salah satu dari lima situs nomine untuk kategori Wisata yang berhak maju ke babak selanjutnya.</p>

	<p>Kini, selama satu setengah bulan mendatang, situs Anda bakal bersaing dengan empat situs nomine lain untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari masyarakat internet Indonesia yang bakal menjadi penentu, situs mana yang paling layak mendapatkan predikat Situs Indonesia Terbaik 2004-2005.</p>

	<p>Oleh sebab itulah, sebagai pengelola situs terpilih, Anda berhak melakukan kampanye dan promosi agar para pengunjung situs Anda mendukung dan memilih situs Anda hingga bisa merebut predikat Situs Indonesia Terbaik 2004-2005.</p>

	<p>Cukup ajak pengunjung Anda untuk mengirim <span class="caps">SMS</span> dukungan dengan mengetik <span class="caps">POLL  ST    </span> ke nomor 8811.</p>

	<p>Tersedia sebuah ponsel SonyEricsson K500i, dua buah ponsel Nokia 3100 dan 10 paket merchandise komputerakt!f bagi para peserta polling yang beruntung. Sistem polling <span class="caps">SMS</span> sendiri dibuka mulai 16 Oktober 2004 hingga 30 November 2004. Satu nomor ponsel hanya berhak memberikan satu suara dukungan untuk tiap kategorinya. Polling ini berlaku untuk pelanggan Telkomsel, Indosat maupun Excelcom dengan tarif Rp 1.500.</p>

	<p>Informasi lebih lanjut, kunjungi www.situsterbaik.com</p>

	<p>Sekali lagi selamat, dan mulailah mencari dukungan.</p>

	<p>salam,</p>

	<p>Panitia</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/11/19/e-mail-pengumuman-nominasi-situs-terbaik-2004-2005/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Danau Limboto : Pemberkah yang sedang merana</title>
		<link>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/09/11/danau-limboto-pemberkah-yang-sedang-merana/</link>
		<comments>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/09/11/danau-limboto-pemberkah-yang-sedang-merana/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2004 15:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gtoms</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nusantaralink]]></category>
		<category><![CDATA[Jagadamba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://henry.gultom.or.id/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[	Perairan danau merupakan kekayaan alam yang tidak hanya memiliki peran fungsional bagi kawasan dan penduduk di sekitarnya. Keindahan serta fenomena alam yang ada padanya menjadi aset bagi kawasan itu sendiri. Demikian pula halnya dengan Danau Limboto bagi Kabupaten Gorontalo.

Danau Limboto telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari detak kehidupan penduduk di sekelilingnya. Terletak di Daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Perairan danau merupakan kekayaan alam yang tidak hanya memiliki peran fungsional bagi kawasan dan penduduk di sekitarnya. Keindahan serta fenomena alam yang ada padanya menjadi aset bagi kawasan itu sendiri. Demikian pula halnya dengan Danau Limboto bagi <a href="http://www.kabgtlo.go.id">Kabupaten Gorontalo</a>.<br />
<span id="more-38"></span><br />
<img src="http://henry.gultom.or.id/images/pohonkelapa.jpg" alt="" align="left" />Danau Limboto telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari detak kehidupan penduduk di sekelilingnya. Terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone Bolango, Danau yang cukup besar di Sulawesi ini terhampar di ketinggian 4,50 meter di atas permukaan laut (dpl). Dengan luas &#177; 3000 hektar, Danau ini dikelilingi oleh lima kecamatan. Yaitu, Kecamatan Limboto, Telaga, Telaga Biru, Batuda&#8217;a, dan Kota Barat yang merupakan wilayah Gorontalo Kota. Selain Sungai Bone Bolango, Danau Limboto ini merupakan muara dari empat sungai besar yang berhulu di Kabupaten Gorontalo. Keempat sungai tersebut adalah: Sungai Alo, Sungai Daenaa, Sungai Bionga, dan Sungai Molalahu. Sementara itu, Danau ini juga merupakan hulu dari Sungai Tapodo yang muaranya menyatu dengan Sungai Bone Bolango dan mengalir terus ke laut.</p>

	<p>Jika ditinjau dari letak kawasan Danau yang dikelilingi perbukitan, tak tertutup kemungkinan bahwa Danau ini merupakan sebuah kaldera dari sebuah gunung berapi yang meletus ribuan tahun lalu. Kemungkinan ini sangat besar mengingat Pulau Sulawesi merupakan sebuah pulau di Kepulauan Sunda Besar yang sarat dengan gunung-gunung berapi.</p>

	<p><span class="caps">SITUS SEJARAH DANAU LIMBOTO YANG MULTI FUNGSI</span>.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/pantai.jpg" alt="" align="left" />Sejak lama, Danau Limboto ini telah menjadi sumberdaya perikanan air tawar bagi penduduk di sekitarnya. Memang Danau ini memiliki multi fungsi baik bagi penduduk sekitarnya maupun kawasan Kabupaten Gorontalo umumnya. Ia juga merupakan sumber air tawar sekaligus penyangga kehidupan dan tata air bagi masyarakat di bantaran sungai-sungainya. Dengan demikian Danau ini merupakan pengendali banjir bagi sebagian besar kawasan Kabupaten. Melihat kesemua peran dan fungsinya yang sangat penting itu, dapat dikatakan bahwa Danau Limboto memegang peran esensial bagi keseimbangan alam dan ekosistem kawasan.</p>

	<p>Mungkin peran penting dan multi fungsi yang disebutkan di atas turut pula memiliki andil  dalam perjalanan sejarah negeri ini. Oleh karena, Bung Karno&#8212;yang terkenal pandai mengangkat fenomena alam dan sosial negeri ini ke dalam tindakan-tindakan simbolis&#8212;pernah mendarat di perairan Danau Limboto. Hal yang sama juga dilakukannya di Danau Tondano, Provinsi Sulawesi Utara. Kunjungan Presiden Pertama Republik Indonesia sendiri rupanya membekas dalam di benak masyarakat Gorontalo. Dan hal ini, ditandai oleh dibangunnya sebuah situs sejarah berupa musium mungil yang apik di tepian Danau. Sebuah dermaga kayu yang terpeliharan sangat baik dibangun pula di depan musium. Dari dermaga yang menjorok cukup jauh ke tengah Danau, kita dapat menikmati panorama Danau Limboto yang sangat indah.</p>

	<p><span class="caps">PEMBERI BERKAH YANG SEDANG MERANA</span></p>

	<p>Duduk di anak tangga dermaga kayu, di area situs sejarah penringatan kunjungan Bung Karno. Imajinasipun melayang membayangkan situasi Danau Limboto di tahun 50-an. Sekeping kisah diuraikan oleh Bapak Mister Wunani, Kepala Desa Iluta dari kecamatan Batuda&#8217;a, yang menemani penulis menikmati senja di tepian Danau.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/mister.jpg" alt="" align="left" /><em>&#8220;Pada tahun 50-an, yaitu ketika Bung Karno berkunjung kemari, kedalaman Danau ini mencapai 27 meter. Itu saya tahu betul, karena, sebelum pesawat Beliau mendarat, kedalaman Danau ini sempat diukur. Waktu itu saya masih kelas 3 (tiga) SD.&#8221;</em> Demikian ujar pria berusia 59 tahun itu. Ia sempat terdiam sesaat dengan pandangan menerawang jauh ke tengah Danau. Lalu Ia pun kembali melanjutkan kisahnya.</p>

	<p><em>&#8220;...pada waktu itupun Danau ini masih sangat bersih. Tidak ada patok-patok bambu yang kita lihat sekarang ini. Pesawat amphibi yang dikendarai Beliau diikat kurang lebih satu kilometer dari tepi Danau. Dan, Bung Karno mencapai mencapai tepian Danau dengan menggunakan rakit yang diikatkan di atas empat perahu. Air di tepian Danau pada saat itupun cukup dalam. Tidak seperti sekarang yang sudah tertimbun lumpur seperti ini.&#8221;</em></p>

	<p>Memang keadaan Danau Limboto saat ini sangat jauh berbeda. Lumpur tebal yang mulai mengeras dipenuhi ribuan enceng gondok yang berbunga ungu. Di beberapa tempat yang masih digenangi air, rumpun-rumpun teratai menyembul dengan daun-daun yang sangat subur. Bunga-bunga teratai berwarna merah muda tampak lebih besar untuk ukuran spesies teratai liar seperti ini. Demikian hebat pendangkalan yang terjadi sehingga hanya menyisakan area perairan nun jauh di tengah sana.</p>

	<p>Dalam tulisan ilmiah Achmad S. Sarnita, &#8220;Pengelolaan Perikanan Danau Limboto, Sulawesi Utara&#8221;, dikatakan bahwa luas Danau Limboto pada tahun 1933 mencapai 7000 hektar. Sementara kedalaman maksimumnya mencapai 30 meter. Sementara menurut catatan Dinas Perikanan Kabupaten Gorontalo tahun 2003, kedalaman Danau hanya mencapai 2 meter saja. Prof. Jassin Tutoli, Ketua Tim Perencanaan Pelestarian Danau Limboto, dalam survai terakhir mencatat bahwa kedalaman Danau Limboto saat ini hanya 1-1,5 meter saja. Sebuah degradasi ekosistem yang sangat memprihatinkan.</p>

	<p>Meski kondisinya sudah sedemikian memprihatinkan, Danau Limboto masih tetap memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. Belasan gubuk terapung yang dikelilingi oleh bagan-bagan jaring apung tampak di kawasan tengah Danau. Tonggak-tonggak bambu yang mencuat dari permukaan Danau memberi panorama tersendiri. Ikan mas, Gurame, dan Nila Putih adalah jenis ikan yang umumnya dibudidayakan di jaring-jaring terapung tersebut.</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/perahu.jpg" alt="" align="right" />Mengelilingi kawasan perkampungan nelayan di seputar Danau, memberikan gambaran yang lebih nyata. Kemarau panjang membuat perbukitan yang mengelilingi Danau tampak meranggas. Kegiatan pendudukpun memperlihatkan fenomena yang justru kontra produktif dengan upaya pelestarian Danau itu sendiri. Di beberapa tempat, di kawasan Batuda&#8217;a, penduduk melakukan penambangan batu kapur. Lubang-lubang menganga mirip pintu gua menjadi pemandangan yang tampaknya sudah biasa. Penggalian tanah dengan mengikis bukit menyisakan lahan terbuka yang sangat ringkih di beberapa bahu jalan. Kengerian sesaat membersit membayangkan bahaya longsor yang sangat mungkin terjadi ketika hujan mengguyur.</p>

	<p>Memasuki perkampungan nelayan di kawasan tepian Danau menghadirkan suasana yang khas. Kepala-kepala menyembul dari balik jendela. Sementara, penduduk yang sedang santai di warung-warung sederhana tampak tak segan menyapa. Dari dermaga kayu yang sederhana, tampak belasan sampan terikat. Hari masih terlalu siang, tetapi terlalu banyak sampan nelayan yang diam tertambat.</p>

	<p>Memang tak banyak nelayan yang turun ke Danau. Hanya beberapa sampan meluncur di permukaan air yang samasekali tak berombak. Burung-burung air sesekali melyang di angkasa, menukik ke permukaan Danau tanpa hasil. Mungkin inilah kenyataan riil dari catatan Sarnita mengenai habitat ikan di Danau Limboto. &#8220;...keragaman jenis ikan di Danau Limboto juga mengalami penurunan. Dua jenis ikan tebaran&#8212;yaitu ikan tawes dan lele&#8212;sudah sukar didapat. Demikian pula dengan ikan sidat, yang merupakan varietas asli Danau. Sedangkan ikan tebaran, nilem, yang memiliki nilai ekonomis tinggi telah hampir pula punah dari Danau ini.&#8221; Demikian catatan memilukan dari hasil penelitian Achmad S. Sarnita di tahun 1999.</p>

	<p><span class="caps">URGENSI KONSERVASI DANAU LIMBOTO YANG TIDAK BISA DITAWAR LAGI</span>.</p>

	<p>Peran dan multi fungsi Danau Limboto tak pernah surut baik bagi penduduk di sekitarnya maupun kawasan Gorontalo. Namun kondisinya dari tahun ke tahun semakin memperihatinkan. Hal ini memaksa kita melakukan sesuatu, meski hanya dalam pemikiran. Apapun upaya yang bertujuan untuk mengkonservasi dan mengembalikan kondisi Danau yang menjadi aset Kabupaten Gorontalo ini patut diperjuangkan. Pemikiran inipun tak pelak memaksa kita memutar rasio dan mempertanyakan apakah yang menyebabkan pendangkalan Danau ini?</p>

	<p><img src="http://henry.gultom.or.id/images/perahu2.jpg" alt="" align="right" />Beberapa pemberitaan lokal dan juga literatur ilmiah menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan yang menyebabkan pendangkalan Danau Limboto ini. Selain keempat sungai besar yang telah disebutkan sebelumnya, Danau ini juga menjadi muara dari 23 buah anak sungai lainnya. Dapat dibayangkan betapa berat beban yang ditanggung Danau ini jika harus menampung jutaan ton lumpur dari sungai-sungai itu. Mengenai hal ini Mister Wunani mengatakan:<br />
<em><br />
&#8220;Pendangkalan ini berasal dari tangan-tangan masyarakat yang tidak mengerti. Sehingga, terjadi erosi. Terlebih lagi, Danau ini kan tempat bermuaranya sungai-sungai besar. Jadi lumpurpun bertumpuk di Danau ini.</em></p>

	<p>Kami membahas masalah pendangkalan Danau ini dalam rapat di tingkat Provinsi. Dari sana diperoleh kesimpulan bahwa perlu dibuatkan check-dam terutama di muara-muara sungainya. Check-dam ini penting untuk menjaga jangan sampai lumpur masuk dan menambah pendangkalan Danau. Kami juga minta agar Danau ini dikeruk, karena kalau tidak Danau Limboto akan mati.&#8221;</p>

	<p>Kekhawatiran Mister Wunani merefleksikan kekhawatiran umum dari masyarakat di lima Kecamatan seputar Danau Limboto. Oleh karena mayoritas penduduk di kawasan itu adalah nelayan jaring dan petani nelayan jaring terapung. Menurut Wunani selanjutnya:</p>

	<p><em>&#8220;...jika tidak ada lagi usaha itu (perikanan danau), mereka tidak punya usaha lain. Mereka mungkin akan pergi meninggalkan Iluta.&#8221;</em></p>

	<p>Upaya pembangunan check-dam maupun pengerukan Danau yang diharapkan masyarakat tak kunjung menjadi kenyataan. Meski demikian, masyarakat nelayan di pesisir Danau Limboto tak berputus asa. Upaya alternatif yang disarankan Sarnita untuk mengendalikan tumbuhan air di Danau itu mulai tampak. Tumpukan enceng gondok membentuk tegalan-tegalan panjang membuat permukaan Danau yang tersisa cukup bersih dan luas bagi area budidaya ikan. Namun, cukupkah upaya tersebut untuk menanggulangi proses pendangkalan yang seperti berpacu dengan waktu? Sebuah pertanyaan yang rasanya tak menyisakan waktu untuk berpikir. Tindakan cepat yang tepat adalah satu-satunya jawaban yang dibutuhkan.</p>
 ]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://henry.gultom.or.id/index.php/archives/2004/09/11/danau-limboto-pemberkah-yang-sedang-merana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
