BAMBUA : Terompet Kerang

bambu
Suara lengkingan mirip suara terompet yang khas memecah pagi Gorontalo. Beberapa ibu segera saja bergegas keluar rumah, berkumpul di depan salah satu rumah dengan wajah ceria. Dari kejauhan seorang pria mengendarai sepeda tersenyum lebar menyapa para Ibu di depannya. Dengan hati-hati, pria tersebut turun dari sepeda yang dilengkapi dengan dua buah keranjang besar di bagian belakangnya. Sedemikian rupa kedua keranjang tersebut diikatkan pada sadel goncengan sepedanya sehingga tepat di tengahnya cukup untuk meletakkan sebilah papan yang berfungsi sebagai meja kecil.

“Mau masak ikan apa hari Ibu-Ibu?”. Demikian sapa pria penjaja ikan segar kepada para langganan setianya. Lalu ramailah para Ibu tersebut memilih-milih ikan yang akan menjadi menu keluarga siang harinya. Celoteh mereka begitu ramai, meminta sang penjaja mengeluarkan ikan dari keranjangnya, menawar, meminta sang penjaja ikan untuk membersihkan ikan pilihannya, dan saling melempar beragam komentar. Dengan sabar tanpa pernah kehilangan senyum lebarnya, sang penjaja ikan melayani para langganannya itu. Demikian, pagi dimulai di Gorontalo.

Penjaja ikan mungkin merupakan hal yang biasa di semua kawasan. Namun penjaja ikan yang menggunakan BAMBUA, terompet kerang mungkin hanya ada di Gorontalo saja. Sebagai kawasan ya
ng dibatasi oleh lautan yang masih tergolong bersih, tidaklah terlalu sukar untuk menemukan kerang-kerang besar yang cukup bagus untuk dijadikan terompet Bambua.

Dengan memotong ujung runcing kerang diperoleh sebuah lubang yang digunakan untuk meniup Bambua tersebut. Tinggi nada yang dihasilkan Bambua inipun tergantung pada ukuran kerangnya itu sendiri. Semakin besar kerang yang digunakan maka semakin rendah nada suara yang dihasilkan. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil ukuran kerang maka nada suara yang lebih tinggi melengking dapat dihasilkan.

SEBUAH TRADISI TUA MASYARAKAT PESISIR

Terompet kerang atau conch shell trumpet adalah sebuah tradisi tua dari masyarakat pesisir di seluruh dunia. Ikon Hindu bahkan juga menggambarkan Wisnu dengan salah satu tanggannya memegang terompet kerang yang dinamakan shanka. Memang di beberapa kawasan penggunaan terompet kerang ini berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Di Tibet dan Jepang, terompet kerang menjadi salah satu benda yang dikategorikan sebagai peralatan upacara keagamaan yang hanya dapat ditiup oleh para pendeta saja.

Sementara bagi Angkatan Laut Kerajaan Inggris, terompet kerang ini telah sejak lama dipergunakan. Demikian pula dengan para tentara Amerika pada saat perang saudara yang berkecamuk antara Amerika Utara dan Selatan. Memang sejak dahulu, penggunaan kerang sebagai terompet sudah menjadi bagian tak terpisahkan terutama bagi masyarakat di kawasan pesisir di seluruh dunia. Seperti halnya Gorontalo, beberapa suku Maori di Kepulauan Pasifik, Hawai masih memelihara penggunaan terompet kerang sebagai salah sebuah tradisi yang erat dalam kehidupan mereka.

Oleh karena keunikan dan sejarah tradisinya yang sanga tua, di berbagai negara maju di dunia bahkan kembali mempopulerkan penggunaan terompet kerang ini. Beberapa musisi dunia bahkan pernah menampilkan pemakaian terompet kerang ini dalam pertunjukannya. Bahkan, Philarmonic Orchestra pun pernah menampilkan mereka.

3 thoughts on “BAMBUA : Terompet Kerang

  1. rinjani

    aq tw ad terompet kerang sebelumnya, tapi nggak tw kalo namanya bambua,,

    btw omong2,,kalo mw nyari bambua di daerah deket2 jakarta,kira2 dmn tw nggak? hehe…

    thanks y,,i like the review

  2. heru

    Saya mahasiswa universitas diponegoro undip

    saya tertarik dengan bambua

    dapatkah saya mempelajarinya?

    untuk menambah khasanah pengetahuan saya,karena saya ingin memambah ilmu pengetahuan agar dapat saya gunakan dalam pendidikan saya.

  3. put

    aku tertarik skaligus penasaran sama bambua, di gorontalo ada industri atau home industri yang memproduksi bambua nggak? dimana dan berapa nomer telepon yang bisa di hubungi. thanks buat info nya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.