Distopia Cyber

Kritik-kritik sosial tentang cyberspace yang mengikuti sebuah tradisi Marxist lebih bertentangan dengan cyberspace daripada mereka yang menyukainya dalam semangat postmodernis. Pada tahun 1995, sebuah paper yang ditulis oleh Julian Stallabrass, yang berjudul Empowering Technology: The Exploration of Cyberspace, muncul dalam New Left Review yang memperkenalkan kemungkinan untuk pertama kali sebuah analisis cyberspace dalam jurnal ini. yang menarik, dua judul lainnya yang muncul pada sampul adalah, Cyberhype dan Utopia dan The Promise of the internet. Tertanam dalam pikiran, posisi sayap kiri dari jurnal, akan di ketahui bahwa judul-judul ini memiliki implikasi ironi yang kuat: utopia akan muncul pada akhir artikel Stallabrass hanya sebagai distopia, dan janji bukan sebagai janji. Kemudian mucul istilah internet sebagai sinonim dari cyberspace.

Artikel Stallabrass, dalam konteks ini, melambangkan kritikan Marxist tentang cyberspace yang mengarahkan dunia pada sebuah pemahaman tentang apa yang dapat disumbangkan oleh trend kritik ini pada pertimbangan kita tentang subyektifitas cyber. Artikel Stallabrass diarahkan untuk meningkatkan sedikit masalah yang sering ditemukan dalam kritikan-kritikan yang sama. Pada dasarnya, masalah-masalah ini berpusat pada ketidakmerataan distribusi sumber-sumber ekonomi dalam cyberspace yang dapat memperparah, dan bukan menghilangkan, ketidak seimbangan sosial yang ada didalam kelas-kelas yang berbeda. Ketidakseimbangan ini, seperti yang banyak dipermasalahkan orang, menciptakan gap antara yang memiliki (mereka yang memiliki peralatan utama untuk produksi) dan mereka yang tidak memiliki. Ini sebuah gap yang akan memberikan masukkan pada demokratisasi yang tidak bertenaga dimana cyberspace diharapkan untuk meningkatkannya. Terlepas dari hal ini, argumen utama dari artikel Stallabrass adalah bahwa dengan meruntut dalam komsumerisme dan mengalahkan pada eksploitasi total dan kontrol kapitalisme, cyberspace tidak hanya mengurangi segalanya yang dapat diperhitungkan, ditukarkan, dan dijual dalam komoditas informasi, tapi dia juga menjadi dirinya sendiri yang merupakan komoditas universal dimana pengalaman subyek dalam partisipasi akan menjadi sebuah bahan dan sebuah komoditi. Dengan kata lain, cyberspace terbukti sebagai net yang ada dimana-mana dalam hal komodifikasi dimana kedua objek dan subyek didapat. Bagi Stallabrass, cyberspace pada kenyataannya memasukkan totalisasi Enlightment yang mengurangi banyaknya objek yang dapat dihitung dengan mudah secara ilmiah dan mudah diubah dalam kapitalisme, sebuah proses yang juga harus dilakukan oleh subjek. Stallabrass lebih dari hanya sekedar distopia dimana masyarakat kapital tinggal. Di dalam nilai tukar logis kapitalis yang mengembangkan semua perbedaan antara dan dalam subjek dan objek semua diperlukan dalam cara yang sama seperti komoditi-komoditi cyberspace tidak mewujudkan sebuah surga komputer, tapi sebuah neraka kapitalis yang terkomputerisasi. Dengan mengesampingkan kelemahan-kelemahan dari sedikit hal yang mendetail dalam argumen Stallabrass, dengan acuan pada praktek-praktek internet saat ini, pendekatannya terlihat lebih dekat pada premis-premis yang dasarnya untuk melihat bagaimana mereka akan mengarahkan pada sebuah dilema, sebuah batas yang dibuat oleh hal-hal semacam ini.

Argumen Stallabrass didasarkan pada dua premis yang saling berhubungan, sebuah kritikan tentang ideologi cyberspace sebagai sebuah kesadaran palsu dan sebuah anggapan awal humanis tentang inti human yang asli. Tujuan utama dari artikelnya tidak lebih adalah sebuah penjelasan ideologi cyberspace sebagai sebuah hal yang palsu untuk membawa kita sebuah masyarakat yang liberal, demokratis, dan yang lebih bebas. Janji ini menjadi sebuah gambar yang menyedihkan di akhir kalimat dari artikelnya: Seiring dengan penurunan dunia nyata, udara sekali lagi dipenuhi dengan momok, saat ini digital, yang menjanjikan pada akhirnya untuk menarik utopia dari penyingkapan (Debord,2000:hal: 32). Strategi Stallabrass yang tidak saling berhubungan digunakan untuk memunculkan ketidak mungkinan cyberspace untuk membuktikan kepalsuan ideologinya. Dengan acuan pada masalah subyektifitas, argumen ini mencoba untuk memastikan dan bukan membebaskan subjek, bahwa cyberspace sebenarnya menempatkannya dalam bentuk-bentuk eksploitasi, perubahan, pengurangan, dan komodifikasi baru. Saat penjelasan Stallabrass memberitahu semua orang tentang apa yang seharusnya mereka tahu tapi mereka sampai saat ini masih tidak mengetahuinya tentang cyberspace, argumennya juga memiliki anggapan awal bahwa terdapat sebuah hal yang lebih penting dari subjek, sebuah subyektifitas yang sebenarnya, yang diubah dan terlilit oleh kesadaran palsu dari teknologi informasi, sebuah hal yang menunggu untuk disimpan dan dijaga oleh para pengkritik cyberspace seperti dia. Tidaklah begitu mengejutkan untuk mengetahui bahwa sebagian argumen dari Stallabrass didasarkan pada perhatian tentang dasar kedua, yang terletak dalam dampak yang merusak dari cyberspace pada subjek dan objek. Keberadaan dari dasar pertama, sebuah subyektifitas yang lebih penting, dinyatakan secara tidak langsung disini. Dengan mempertimbangkan ideologi sebagai kesadaran palsu, maka ini akan mengarahkan kita pada sebuah kepastian yang penuh dengan harapan dari kesadaran yang sebenarnya dari manusia dan juga subyektifitas. Stallabrass, dalam konteks ini, berpikir bahwa dalam cara yang hampir sama dengan Guy Debord dalam The Society of the Spectacle dalam kepercayaannya pada kehadirannya dimana-mana dan kemahakuasaan jaringan informasi dan media dalam menentukan apa yang akan disebut oleh Taylor dan Saarinen nanti sebagai mediatrix untuk melaksanakan mediaisasi dari subyektifitas yang sebenarnya. Regis Debray membaca kembali pendapat-pendapat utama Debord yang paralel dengan Inti Kristianitas Feuerbach dan mendapatkan hasil dengan observasi bahwa keduanya sangat tergantiung pada tradisi humanisme, yang mendukung kepercayaan pada “Pendapat tentang sebuah dasar yang generik, sebuah inti sebelum kehadiran manusia. Dan kepercayaan ini mengarahkan mereka dan Stallabrass pada strategi yang tidak saling berhubungan, yang sama dalam menjelaskan ideologi untuk mendapatkan kembali “sebuah pengenalan, sebuah pertentangan dari pertentangan, bahwa manusia akan mampu untuk kembali ke dunia dari surga, menyebarkan kasih Tuhan, tentang ideologi, dan juga tentang cyberspace ini adalah hal yang ekuivalen dalam kasih pada humanitas yang aktif dan pemikiran tentang kemanusiaan. Persepsi ideologi ini menyangkal segalah perhatian yang serius sebagai contoh dengan “mediasi politik dan teknik dalam menyusun keberadaan manusia dan ini juga menjadi ciri khas dari kaum moralis dalam segala masa.(teori Debord). Bagi Debray, pandangan yang sederhana ini membuang keraguan-keraguan pada segala mediasi yang membantu mediasi yang transparan antara subyek dan predikatnya dan, sebaliknya, akan pekerja penting untuk mediasi nyata. Sedangkan para pemikir postmodernis tentang subyektifitas cyber harus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh para pengkritik Marxis tentang cyberspace tentang bagaimana subyektifitas yang menyebar dapat memberikan identitas yang diperlukan untuk pembangunan masyarakat-masyarakat, virtual atau nyata, para pengkritik marxis juga harus berhubungan dengan manusia.

Dan aporia ini, sesuai dengan strategi yang tidak saling berhubungan dari para pengkritik Marxist tentang cyberspace, seperti Stallabrass, membawa masalah lain yang juga tidak menyenangkan. Karena anggapan humanis awal mereka sekarang ini sangat meragukan (melalui kerja yang dilakukan oleh post-strukturalisme dan postmodernisme), mereka akhirnya akan gagal untuk mempertahankan cyberspace efektif. Karena adalah tidak mungkin untuk kembali ke masyarakat sebelum cyberspace (sebuah masyarakat informasi) dimana subyektifitas yang sebenarnya dapat disimpan, orang berhadapan dengan pandangan menyedihkan dan negatif dari cyberspace yang disediakan oleh para pengkritik Marxist, akan muncul dalam pertanyaan: apa yang harus kita lakukan selanjutnya, atau apa yang harus kita lakukan dengan cyberspace jika kondisinya memburuk ? Maka, sepertinya adalah logis dalam kritikan Marxist: apakah kita akan memiliki sebuah masyarakat cyber yang bagus dalam segala hal, atau kita tidak akan memilikinya sama sekali. Kemudian, penyebaran cyberspace dan datangnya masyarakat informasi tidak dapat dihindari dan tidak pernah bisa dihentikan hanya oleh peringatan dystopian, jika para pengkritik Marxist tentang cyberspace hanya dapat menemukan argumen-argumen distopian mereka pada sebuah utopian dan tidak ditemukan tradisi humanistik, para pengkritik semacam ini cepat atau lambat akan mencapai batas dimana tidak memungkinkan lagi untuk menawarkan segala solusi alternatif, dimana mereka menjadi tangisan dari protes tanpa dampak-dampak yang penting.

Dengan kata lain, jika generalisasi cyberspace sebagai sebuah distopia cyber yang hanya dapat menimbulkan dan memperburuk kejahatan-kejahatan sosial dan tidak dapat membujuk orang untuk membuang cyberspace, mekanisme yang sebenarnya dimana ideologi fungsi-fungsi cyberspace dapat ditinjau kembali. Jika pengenalan kita akan membuat kita menyadari bahwa sebuah utopia cyber tidak akan masuk ke dunia, kita tidak akan puas dengan sebuah neraka cyber yang juga bisa muncul

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.